Raungan Motor … 

Diraungkannya motor yang ditunggangi berulang-ulang sambil membelah jalan Suci di kota Bandung. Arus lalu lintas ke arah barat jalan Suci tidak terlalu padat di hari Sabtu terakhir bulan September. Matahari yang cerah dipagi itu tidak membuat mukanya ceria. Mukanya menggambar kemelut yang dihadapinya.

Dia hanya punya waktu pendek untuk memutuskan, sependek waktu perjalanan menuju daerah Muararajeun. Benaknya terlintas rentetan kejadian yang menyakitkan hatinya. Kejadian yang hampir tidak dipercayainya. Kejadian tersebut apabila dirangkai menjadi suatu fragmen kehidupan yang memilukan hatinya.

Terbayang dalam benaknya kejadian reuni smp di Jayapura, reuni yang sama di Bali, reuni di Bandung dan terakhir perjalanan serta reuni ke Yogyakarta. Belum lagi rentetan kejadian diantaranya usaha bersama pengadaan seragam untuk kegiatan di Papua. Sungguh rangkaian kejadian tadi berkecamuk dalam benaknya. Teriris hati rasanya ketika mengetahui bahwa amanahnya telah dicederai, telah dikhianati.

“Pagi pak Ahmad, bagaimana kabarnya pagi?” sapanya ketika sampai di kantor. “Baik pak, walau agak hujan tapi kami sehat semua disini” balas pak Ahmad sambil membukakan pintu. “Oh hujan, kalau begitu bagaimana dengan orang kantor pulangnya? Apa tidak kehujanan?” ujarnya kembali. “Oh kalau saya biasanya menunggu hujan reda, kalau bu Endang biasanya saya antar tapi seringnya juga dijemput suaminya” balas pak Ahmad. Deg hatinya mulai berdesir.

“Bapak mau ninum teh atau kopi?” pak Ahmad menawarkan jasanya. “Teh saja pak Ahmad, tawar ya” pintanya. “Saya belum pernah melihat suaminya bu Endang, seperti apa orangnya?” tanyanya menyelidiki. “Orangnya agak hitam, profil dan aksennya seperti orang dari luar pulau Jawa. Biasanya datang sore dan pulang bersama setelah malam tiba. Kadang pakai mereka pakai mobil kantor juga pak.” jawab pak Ahmad. “Oh salam saja kalau ketemu suaminya lagi ya” balasnya sambil menaiki tangga ke lantai dua. “Baik pak” ujar pak Ahmad sambil menambahkan “dulu sering jemput pak, terakhir kira-kira awal Maret pak”. Deg hatinya berdesir kembali. Benaknya teringat kembali ketika pertengahan Februari dia menemukan memory card tergeletak di mobilnya. 

Diraungkan lagi motornya membelah jalan Suci kearah barat, meliuk-liuk menyusul kendaraan lain, sambil benaknya berfikir. Dia harus memutuskan sebelum sampai tempat tujuan. Harus memutuskan. Pembicaraan tadi pagi telah menyimpulkan semuanya.

Benaknya mulai berfikir. Dia harus memutuskan, memutuskan secepatnya secepat perjalanan dengan motor menuju daerah Muararajeun. Analisa fikirannya mulai jalan walaupun dikecamuk oleh emosi yang selama ini tidak pernah atau jarang ia fikirkan. Dia harus memutuskan.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s